Tuesday, June 16, 2015

(104) Stefanus Ryan Kurniawan : Kesukarelaan Seorang Teman

Kesukarelaan menurut saya berarti rela berkorban dan keikhlasan akan sesuatu, tanpa kita meminta balasan atau mengungkit-ngungkit lagi kejadian itu lagi. Juga, kesukarelaan datang dari diri sendiri dan tanpa paksaan (dibujuk seseorang). Contohnya seperti pahlawan di komik-komik maupun yang ada di dunia nyata. Ada lho pahlawan di sekitar kita, bahkan di dekat kita, hanya saja kita tak menyadarinya. Karena seperti yang saya bilang, mereka tak meminta balasan ataupun mengungkit hal yang telah mereka lakukan. Langsung saja seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan bercerita tentang kejadian saya. Semoga anda menikmatinya dan tak mengantuk saat membaca.

(103) Rizqi Taufiqurahman : Kenetralan dalam Menyikapi Berbagai Informasi Masa Kini

Informasi saat ini sangat mudah didapat dari berbagai media. Akan tetapi, sering kali informasi dari suatu media itu memihak ke salah salah satu pihak. Sehingga, informasi yang diperoleh menjadi kurang netral dan tidak sesuai dengan salah satu dari tujuh prinsip dasar gerakan palang merah. Maka dari itu, kenetralan merupakan hal yang penting dalam menyikapi berbagai informasi masa kini.
            Saat saya SMP, saya merupakan aktivis PMR. Dalam organisasi tersebut saya mendapatkan banyak ilmu. Salah satunya adalah tujuh prinsip dasar gerakan palang merah.  Tujuh prinsip dasar gerakan palang merah adalah kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan,  kesemestaan. Tujuh prinsip tersebut sangat bermakna bagi saya karena dengan menerapkan prinsip tersebut akan membuat manusia yang menerapkannya menjadi manusia yang sukses di berbagai bidang dan menjadikan manusia yang benar-benar manusia. Selain itu, dengan menerapkan tujuh prinsip tersebut dapat membuat lebih dekat kepada sesama manusia maupun alam.

(103) Devi Puji Lestari : Arti Hidup yang Sesungguhnya

Pertama kali saya tahu prinsip dasar Palang Merah Indonesia (PMI) adalah ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dimana saya ikut ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Menurutku ketujuh prinsip dasar tersebut sangat bermakna dan berarti bagiku. Masing-masing prinsip mengajarkanku tentang arti hidup yang sesungguhnya.
Pada prinsip kemanusiaan mengajarkanku makna untuk selalu menolong orang lain yang butuh bantuan baik di lingkungan sekolah maupun di tempat umum lainnya. Sementara prinsip kesukarelaan mengajarkanku untuk selalu menolong orang tanpa pamrih, tidak mengharap suatu imbalan. Sedangkan prinsip kesamaan mengajarkanku untuk senantiasa berteman dengan siapa saja tanpa memandang ras, agama atau golongan apapun. Selanjutnya prinsip kenetralan mengajarkanku untuk berlaku netral dan adil kepada siapa saja tanpa membanding-bandingkan. Lain lagi dengan prinsip kemandirian yang mengajarkanku untuk selalu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kemudian prinsip kesatuan mengajarkanku untuk menjadi satu kesatuan antar anggota. Prinsip terakhir adalah prinsip kesemestaan yang mengajarkanku untuk melaksanakan hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.

(102) Inayati Sofiah : Prinsip untuk Memanfaatkan Hidup dan Berguna Bagi Orang Lain

Prinsip merupakan suatu pernyataan fundamental atau kebenaran individual atau seklompok orang yang dijadikan oleh seseorang sebagai pedoman hidup untuk dapat berfikir dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Dalam keseharian yang sering saya lakukan adalah membantu orang lain tanpa menerima imbalan. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial maka sudah sewajarnya menjadi kewajiban (terutama untuk saya sendiri) agar dapat tolong menolong dengan sesama.

(101) Farah Husnika Fauziyah : Desa di balik Awan

SKN (Sekolah Kerja Nyata) adalah kegiatan wajib bagi siswa tahun kedua sekolah kami. Semacam KKN ketika kuliah, SKN juga akan mengantarkan kami ke suatu desa terpencil yang kelak akan mendidik kami menjadi ‘orang’ karena kami akan berprofesi sesuai kewajiban kami disini:guru SD,guru ngaji,dll. Desa Cupunagara adalah tujuan kami.desa di balik awan yang harus melewati jalan yang super rusak untuk mencapainya.Bahkan saya tak yakin pemerintah pernah melewatinya.

Di Cupunagara, saya mempunyai orang tu angkat, Bu Entar dan Pak Atang. Rumah Bu Entar bisa dikatakan ‘layak’ dibanding rumah penduduk lainnya. Walaupun lantainya masih beralaskan semen yang sudah mulai retak, dan seperti kebanyakan rumah lainnya rumah Bu Entar tidak terdapat WC sehingga untuk buang air saja kami harus sedikit ‘mendaki’ menuju WC umum. Dan ternyata WC umum ini benar-benar umum, bahkan ayam saja bisa melihat kami di WC karena WC tak berpintu!.Sungguh tak bisa disebut layak,ditambah minimnya cahaya sehingga harus membawa senter saat hari mulai gelap.

(100) Dian Pratiwi : Sehari Merajut Ceria

Setiap orang pasti memiliki satu hari dalam hidupnya yang tidak akan mungkin dilupakan. Bagiku hari tersebut adalah hari dimana aku bisa berbagi dengan para anak-anak thalasemia Bandung. Pada hari Sabtu, 6 Juni 2015 yang lalu, Aku bersama ke 23 teman yang tergabung dalam self transformation training berkumpul di selasar Gedung Kuliah Umum ITB untuk melaksanakan acara bersama anak-anak thalasemia dengan tema ‘Share and Care’ .

Di pagi yang cerah itu, 32 anak-anak thallasemia dengan rentang usia antara 10-15 tahun yang didampingi oleh orang tua masing-masing datang untuk melaksanakan kegiatan bersama kami. Kegiatan dimulai dengan ice breaking dance dengan menarikan gerakan “Shark Family”. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan foto bersama, bermain games dan angklung. Awalnya mereka masih terlihat canggung dan senyuman mereka belum merekah. Namun, sepanjang acara kami selalu berusaha untuk menyatu dengan mereka. Lambat laun mereka sudah dapat tertawa lepas, berlari kesana kemari dan bermain bersama kami. 

(99) Joshua Ivan : Tujuh Prinsip Kehidupanku

Sepertinya aku telah salah memilih menuliskan kata-kata ini tetapi aku 100% menyadarinya: aku bukanlah anggota resmi kesehatan namun aku selalu berusaha menerapkan tujuh Prinsip Dasar Gerakan. Terlihat bodoh jika diriku hanya bercerita, kuakui diriku sendiri tidak bergabung dalam keanggotaan PMI, banyak alasan yang menghambatku menuju kesana tetapi aku benar menyadarinya, akulah yang selalu kagum dengan mereka. Kekaguman itulah yang membawaku pada arus ini, aliran Prinsip Dasar Gerakan yang tak pernah lekang oleh waktu. Cerita ini bukanlah menjadi ajang pencarian ‘kesombongan’ diriku tapi sebuah lilin yang nyata terang bagi diriku sendiri atau bahkan bisa menerangi orang lain, aku berharap seperti itu.