Kesukarelaan menurut saya
berarti rela berkorban dan keikhlasan akan sesuatu, tanpa kita meminta balasan
atau mengungkit-ngungkit lagi kejadian itu lagi. Juga, kesukarelaan datang dari
diri sendiri dan tanpa paksaan (dibujuk seseorang). Contohnya seperti pahlawan
di komik-komik maupun yang ada di dunia nyata. Ada lho pahlawan di sekitar
kita, bahkan di dekat kita, hanya saja kita tak menyadarinya. Karena seperti
yang saya bilang, mereka tak meminta balasan ataupun mengungkit hal yang telah
mereka lakukan. Langsung saja seperti yang saya katakan sebelumnya, saya
akan bercerita tentang kejadian saya. Semoga anda menikmatinya dan tak
mengantuk saat membaca.
Tuesday, June 16, 2015
(103) Rizqi Taufiqurahman : Kenetralan dalam Menyikapi Berbagai Informasi Masa Kini
Informasi
saat ini sangat mudah didapat dari berbagai media. Akan tetapi, sering kali
informasi dari suatu media itu memihak ke salah salah satu pihak. Sehingga,
informasi yang diperoleh menjadi kurang netral dan tidak sesuai dengan salah
satu dari tujuh prinsip dasar gerakan palang merah. Maka dari itu, kenetralan
merupakan hal yang penting dalam menyikapi berbagai informasi masa kini.
Saat saya SMP, saya merupakan aktivis
PMR. Dalam organisasi tersebut saya mendapatkan banyak ilmu. Salah satunya
adalah tujuh prinsip dasar gerakan palang merah. Tujuh prinsip dasar gerakan palang merah
adalah kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, kesemestaan. Tujuh prinsip tersebut sangat
bermakna bagi saya karena dengan menerapkan prinsip tersebut akan membuat
manusia yang menerapkannya menjadi manusia yang sukses di berbagai bidang dan
menjadikan manusia yang benar-benar manusia. Selain itu, dengan menerapkan
tujuh prinsip tersebut dapat membuat lebih dekat kepada sesama manusia maupun
alam.
(103) Devi Puji Lestari : Arti Hidup yang Sesungguhnya
Pertama kali saya tahu prinsip
dasar Palang Merah Indonesia (PMI) adalah ketika duduk dibangku Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dimana saya ikut ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR).
Menurutku ketujuh prinsip dasar tersebut sangat bermakna dan berarti bagiku.
Masing-masing prinsip mengajarkanku tentang arti hidup yang sesungguhnya.
Pada prinsip kemanusiaan
mengajarkanku makna untuk selalu menolong orang lain yang butuh bantuan baik di
lingkungan sekolah maupun di tempat umum lainnya. Sementara prinsip
kesukarelaan mengajarkanku untuk selalu menolong orang tanpa pamrih, tidak
mengharap suatu imbalan. Sedangkan prinsip kesamaan mengajarkanku untuk
senantiasa berteman dengan siapa saja tanpa memandang ras, agama atau golongan
apapun. Selanjutnya prinsip kenetralan mengajarkanku untuk berlaku netral dan
adil kepada siapa saja tanpa membanding-bandingkan. Lain lagi dengan prinsip
kemandirian yang mengajarkanku untuk selalu mandiri dan tidak bergantung pada
orang lain. Kemudian prinsip kesatuan mengajarkanku untuk menjadi satu kesatuan
antar anggota. Prinsip terakhir adalah prinsip kesemestaan yang mengajarkanku
untuk melaksanakan hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.
(102) Inayati Sofiah : Prinsip untuk Memanfaatkan Hidup dan Berguna Bagi Orang Lain
Prinsip merupakan suatu pernyataan
fundamental atau kebenaran individual atau seklompok orang yang dijadikan oleh
seseorang sebagai pedoman hidup untuk dapat berfikir dan bertindak sesuai
dengan norma yang berlaku.
Dalam keseharian yang sering saya
lakukan adalah membantu orang lain tanpa menerima imbalan. Karena sejatinya
manusia adalah makhluk sosial maka sudah sewajarnya menjadi kewajiban (terutama
untuk saya sendiri) agar dapat tolong menolong dengan sesama.
(101) Farah Husnika Fauziyah : Desa di balik Awan
SKN (Sekolah Kerja Nyata) adalah kegiatan wajib bagi siswa
tahun kedua sekolah kami. Semacam KKN ketika kuliah, SKN juga akan mengantarkan
kami ke suatu desa terpencil yang kelak akan mendidik kami menjadi ‘orang’
karena kami akan berprofesi sesuai kewajiban kami disini:guru SD,guru
ngaji,dll. Desa Cupunagara adalah tujuan kami.desa di balik awan yang harus
melewati jalan yang super rusak untuk mencapainya.Bahkan saya tak yakin
pemerintah pernah melewatinya.
Di Cupunagara, saya mempunyai orang tu angkat, Bu Entar dan
Pak Atang. Rumah Bu Entar bisa dikatakan ‘layak’ dibanding rumah penduduk
lainnya. Walaupun lantainya masih beralaskan semen yang sudah mulai retak, dan
seperti kebanyakan rumah lainnya rumah Bu Entar tidak terdapat WC sehingga
untuk buang air saja kami harus sedikit ‘mendaki’ menuju WC umum. Dan ternyata
WC umum ini benar-benar umum, bahkan ayam saja bisa melihat kami di WC karena
WC tak berpintu!.Sungguh tak bisa disebut layak,ditambah minimnya cahaya
sehingga harus membawa senter saat hari mulai gelap.
(100) Dian Pratiwi : Sehari Merajut Ceria
Setiap
orang pasti memiliki satu hari dalam hidupnya yang tidak akan mungkin
dilupakan. Bagiku hari tersebut adalah hari dimana aku bisa berbagi dengan para
anak-anak thalasemia Bandung. Pada hari Sabtu, 6 Juni 2015 yang lalu, Aku
bersama ke 23 teman yang tergabung dalam self
transformation training berkumpul di selasar Gedung Kuliah Umum ITB untuk
melaksanakan acara bersama anak-anak thalasemia dengan tema ‘Share and Care’ .
Di
pagi yang cerah itu, 32 anak-anak thallasemia dengan rentang usia antara 10-15
tahun yang didampingi oleh orang tua masing-masing datang untuk melaksanakan
kegiatan bersama kami. Kegiatan dimulai dengan ice breaking dance dengan
menarikan gerakan “Shark Family”.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan foto bersama, bermain games dan angklung. Awalnya mereka masih
terlihat canggung dan senyuman mereka belum merekah. Namun, sepanjang acara kami
selalu berusaha untuk menyatu dengan mereka. Lambat laun mereka sudah dapat
tertawa lepas, berlari kesana kemari dan bermain bersama kami.
(99) Joshua Ivan : Tujuh Prinsip Kehidupanku
Sepertinya aku telah salah memilih
menuliskan kata-kata ini tetapi aku 100% menyadarinya: aku bukanlah anggota
resmi kesehatan namun aku selalu berusaha menerapkan tujuh Prinsip Dasar Gerakan.
Terlihat bodoh jika diriku hanya bercerita, kuakui diriku sendiri tidak
bergabung dalam keanggotaan PMI, banyak alasan yang menghambatku menuju kesana
tetapi aku benar menyadarinya, akulah yang selalu kagum dengan mereka.
Kekaguman itulah yang membawaku pada arus ini, aliran Prinsip Dasar Gerakan
yang tak pernah lekang oleh waktu. Cerita ini bukanlah menjadi ajang pencarian
‘kesombongan’ diriku tapi sebuah lilin yang nyata terang bagi diriku sendiri
atau bahkan bisa menerangi orang lain, aku berharap seperti itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)